Selasa, 18 Agustus 2015

Cara Pembuatan Batik Tulis (2)

 PROSES MEMBUAT BATIK DAN PERLENGKAPANNYA



Dari dulu hingga sekarang, proses pembuatan batik tidak banyak mengalami perubahan. Kegiatan membatik merupakan salah satu kegiatan tradisional yang terus dipertahankan agar tetap konsisten seperti bagaimana asalnya. Walaupun motif dan corak batik di masa kini sudah beraneka ragam, proses pembuatan batik pada dasarnya masih sama. Berikut ini adalah uraian lebih detailnya:

A. Perlengkapan Membatik

Perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Dilihat dari peralatan dan cara mengerjakannya, membatik dapat digolongkan sebagai suatu kerja yang bersifat tradisional.

1) Gawangan



Gawangan adalah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori sewaktu dibatik. Gawangan terbuat dari kayu atau bambu. Gawangan harus dibuat sedemikian rupa hingga kuat, ringan, dan mudah dipindah-pindah.

2) Bandul



Bandul dibuat dari timah, kayu, atau batu yang dimasukkan ke dalam kantong. Fungsi pokok bandul adalah untuk menahan agar mori yang baru dibatik tidak mudah tergeser saat tertiup angin atau tertarik oleh si pembatik secara tidak sengaja.

3) Wajan



Wajan adalah perkakas utuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.

4) Kompor



Kompor adalah alat untuk membuat api. Kompor yang biasa digunakan adalah kompor berbahan bakar minyak. Namun terkadang kompor ini bisa diganti dengan kompor gas kecil, anglo yang menggunakan arang, dan lain-lain. Kompor ini berfungsi sebagai perapian dan pemanas bahan-bahan yang digunakan untuk membatik.

5) Taplak



Taplak adalah kain untuk menutup paha si pembatik agar tidak terkena tetesan malam panas sewaktu canting ditiup atau waktu membatik.

6) Saringan Malam



Saringan adalah alat untuk menyaring malam panas yang memiliki banyak kotoran. Jika malam tidak disaring, kotoran dapat mengganggu aliran malam pada ujung canting. Sedangkan bila malam disaring, kotoran dapat dibuang sehingga tidak mengganggu jalannya malam pada ujung canting sewaktu digunakan untuk membatik.

Ada bermacam-macam bentuk saringan, semakin halus semakin baik karena kotoran akan semakin banyak tertinggal. Dengan demikian, malam panas akan semakin bersih dari kotoran saat digunakan untuk membatik.

7) Canting



Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan, terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan malam. Saat ini, canting perlahan menggunakan bahan teflon.

8) Mori



Mori adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas mori bermacam-macam dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Mori yang dibutuhkan disesuaikan dengan panjang pendeknya kain yang diinginkan.

Tidak ada ukuran pasti dari panjang kain mori karena biasanya kain tersebut diukur secara tradisional. Ukuran tradisional tersebut dinamakan kacu. Kacu adalah sapu tangan, biasanya berbentuk bujur sangkar.

Jadi, yang disebut sekacu adalah ukuran persegi mori, diambil dari ukuran lebar mori tersebut. Oleh karena itu, panjang sekacu dari suatu jenis mori akan berbeda dengan panjang sekacu dari mori jenis lain.

Namun di masa kini, ukuran tersebut jarang digunakan. Orang lebih mudah menggunakan ukuran meter persegi untuk menentukan panjang dan lebar kain mori. Ukuran ini sudah berlaku secara nasional dan akhirnya memudahkan konsumen saat membeli kain batik. Cara ini dapat mengurangi kesalahpahaman dan digunakan untuk menyamakan persepsi di dalam sistem perdagangan.

9) Malam (Lilin)



Malam (lilin) adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang) karena pada akhirnya malam akan diambil kembali pada proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain. Malam yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam (lilin) biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat diserap kain, tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorodan.

10) Dhingklik (Tempat Duduk)



Dhingklik (tempat duduk) adalah tempat untuk duduk pembatik. Biasanya terbuat dari bambu, kayu, plastik, atau besi. Saat ini, tempat duduk dapat dengan mudah dibeli di toko-toko.

11) Pewarna Alami



Pewarna alami adalah pewarna yang digunakan untuk membatik. Pada beberapa tempat pembatikan, pewarna alami ini masih dipertahankan, terutama kalau mereka ingin mendapatkan warna-warna yang khas, yang tidak dapat diperoleh dari warna-warna buatan. Segala sesuatu yang alami memang istimewa, dan teknologi yang canggih pun tidak bisa menyamai sesuatu yang alami.

Itulah jenis perlengkapan membatik yang harus ada. Proses membatik memerlukan waktu yang cukup lama, terlebih kalau kain yang dibatik sangat luas dan coraknya cukup rumit.

B. Proses Membatik

Di masa kini, pengusaha batik juga menyediakan pendidikan batik kilat pada anak-anak sekolah dan masyarakat umum. Yang diajarkan adalah tata cara membatik dengan benar, dan biasanya menggunakan kain selebar saputangan sebagai percobaan. Dengan demikian, proses membatik itu dapat dikerjakan hanya dalam beberapa jam dan biaya yang diperlukan pun sangat kecil. Tradisi ini sangat bagus untuk memperkenalkan proses membatik kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Berikut ini adalah proses membatik yang berurutan dari awal hingga akhir. Penamaan atau penyebutan cara kerja di tiap daerah pembatikan bisa berbeda-beda, tetapi inti yang dikerjakannya adalah sama.

1) Ngemplong



Ngemplong merupakan tahap paling awal atau pendahuluan, diawali dengan mencuci kain mori. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kanji. Kemudian dilanjutkan dengan pengeloyoran, yaitu memasukkan kain mori ke minyak jarak atau minyak kacang yang sudah ada di dalam abu merang. Kain mori dimasukkan ke dalam minyak jarak agar kain menjadi lemas, sehingga daya serap terhadap zat warna lebih tinggi.

Setelah melalui proses di atas, kain diberi kanji dan dijemur. Selanjutnya, dilakukan proses pengemplongan, yaitu kain mori dipalu untuk menghaluskan lapisan kain agar mudah dibatik.

2) Nyorek atau Memola



Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai pola di atas kain mori. Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.

3) Mbathik



Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan isen-isen, tetapi lebih rumit.

4) Nembok



Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.

5) Medel



Medel adalah proses pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang-ulang sehingga mendapatkan warna yang diinginkan.

6) Ngerok dan Mbirah



Pada proses ini, malam pada kain dikerok secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu, kain diangin-anginkan.

7) Mbironi



Mbironi adalah menutupi warna biru dan isen-isen pola yang berupa cecek atau titik dengan menggunakan malam. Selain itu, ada juga proses ngrining, yaitu proses mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya, ngrining dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.

8) Menyoga



Menyoga berasal dari kata soga, yaitu sejenis kayu yang digunakan untuk mendapatkan warna cokelat. Adapun caranya adalah dengan mencelupkan kain ke dalam campuran warna cokelat tersebut.

9) Nglorod



Nglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik tulis maupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih. Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering. Proses membuat batik memang cukup lama. Proses awal hingga proses akhir bisa melibatkan beberapa orang, dan penyelesaian suatu tahapan proses juga memakan waktu. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kain batik tulis berharga cukup tinggi.

Senin, 05 Januari 2015

Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya

Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya

Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
Jenis Batik Yogyakarta berasal dari warisan budaya pada zaman kerajaan Mataram Kotagede ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma bertahta. Perpecahan yang terjadi pada kerajaan Mataram tahun 1755 membuat kerjaraan ini terbagi menjadi dua yakni Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kasultanan Surakarta Hardiningrat. Busana kerajaan mataram saat itu tersebar di dua kasultanan tersebut. Namun Kasultanan Surakarta akhirnya memutuskan untuk membuat pola batik baru, sehingga semua busana kerajaaan Mataram dipindahkan ke Kasultanan Yogyakarta.
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
–  Motif Batik Pamiluto
Motif batik Pamiluto umumnya dipakai ketika melangsungkan upacara pertunangan. Kata Pamilut berasal dari kata Pamilut yang artinya perekat. Makna dari motif batik ini adalah agar pasangan calon pengantin saling terikat sehingga mereka bisa menjaga hubungan dengan baik sampai pada waktu pernikahan tiba.
Motif Batik Yogyakarta yang terkenal
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
– Motif Batik Ciptoning
Batik Ciptoning biasa dipakai orang ketika menghadiri acara-acara resmi. Motif batik Ciptong memberikan kesan bijaksana bagi pemakainya, maka tidak heran jika filosofi dari batik Ciptong yakni untuk memberi kesan bijak, sopan dan berwibawa.
motif batik ciptoning
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
– Motif Batik Wahyu Tumurun Cantel
Baju batik dengan motif Wahyu Tumurun Cantel merupakan jenis batik yang khsusus dipakai dalam acara tradisi orang Jawa yaitu Temu Manten, atau pertemuan pengantin. Makna dari motif ini adalah agar pengantin baru tersebut senantiasa mendapat anugerah Tuhan dan dikaruniai keturunan yang soleh solehah.
Motif Batik Wahyu Tumurun Cantel
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
– Motif Batik Wahyu Tumurun
Baju batik jenis ini hampir sama dengan motif sebelumnya, hanya saja batik motif ini lebih bersifat umum serta dipakai oleh masyarakat baik acara formal maupun informal. Makna dibalik motif batik yang satu ini juga tidak berbeda jauh yaitu agar pemakainya selalu mendapat anugerah Tuhan yang maha esa.
Motif Batik Wahyu Tumurun
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
– Motif Batik Udan Liris
Bajua batik motif Udan Liris adalah jenis batik daerah yang juga dikenanan khalayak umum. Filosofi dari batik Udan Liris ialah agar orang yang memakainya terhindar dari mara bahaya dan hal-hal buruk lainnya.
Motif Batik Udan Liris
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
– Motif Batik Truntum Sri Kuncoro
Truntum berasal dari bahasa Jawa yang artinya menuntun. Motif Truntum Sri Kuncoro biasa dipakai oleh orang tua pengantin saat acara Temu Manten berlangsung. Makna terkandung dari batik ini adalah agar orang tua bisa menuntun anaknya dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang akan dijalaninya.
Motif Batik Truntum Sri Kuncoro
Motif Batik Truntum Sri Kuncoro
– Motif Batik Tritik Jumputan
Motif Triktik Jumputan kerap dijumpai pada batik couple atau batik pasangan karenan filosofi dari batik ini ialah agar terkesan serasi.
Motif Batik Tritik Jumputan
Motif Batik Tritik Jumputan
– Motif Batik Tirta Teja
Baju batik motif Tirta Teja mempunyai makana agar pemakai batik tersebut terlihat lebih bercahaya. Filosofi ini bisa kita simpulkan dari asal kata tirta yang berarti air, dan teja yang berarti cahaya.
Motif Batik Tirta Teja
Motif Batik Yogyakarta dan maknanya
– Motif Batik Tambal Kanoman
Motif batik Yogya selanjutnya ialah Tambal Kanoman. Kanoman atau enom artinya muda, sehingga baju batik motif ini lebih ditunjukan untuk para kaum muda.
Motif Batik Tambal Kanoman
Motif Batik Tambal Kanoman
– Motif Batik Soko Rini
Batik Soko Rini lebih sering dipakai untuk membuat gendongan bayi atau orang Jawa menyebutnya jarit. Selain sebagai gendongan bayi, motif batik ini juga dipakai saat upacara tujuh bulanan.
Motif Batik Soko Rini
Motif Batik Yogyakarta dan maknanya
– Motif Batik Slobog
Dua kegunaan utama baju batik motif Slobog ialah untuk meleyat orang meninggal serta saat pelantikan pejabat pemerintah.
Motif Batik Slobog
Motif Batik Slobog
– Motif Batik Sido Mukti Luhur
Motif Sido Mukti Luhur memiliki kegunaan serta filosofi yang sama dengan motif Soko Rini. Sido Mukti artinya kebahagiaan, dimana makna ini menggambarkan kebahagiaan calon ibu yang hendak dikaruniai anak, selain itu ada juga motif batik Sido Asih Kemoda Sungging, motif Prabu Anom Parang Tuding, Motif Parang Tuding
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
Motif Batik Sido Mukti Luhur
– Motif Bati Sido Mukti Ukel Lembat
Motif batik lain yang berhubungan dengan upacara pernikahan, batik Sido Mukti Ukel Lembat kerap dikenakan oleh pasangan pengantin baru. Motif batik Yogya lain yang digunakan oleh pasangan pengantin adalah motif Sido Asih Sungut.
Motif Bati Sido Mukti Ukel Lembat
Motif Batik Yogyakarta dan maknanya
– Motif Batik Sido Asih
Baju batik motif Sido Asih adalah motif bebas yang banyak disukai masyarakat saat ini. Motif lainnya ada motif Semen Romo Sawat Gurdo, motif Semen Mentul, motif Semen Gurdo, motif Sekar Polo, motif Kurung, motif Parang Grompol dan motif Parang Kusumo Ceplok Mangkoro.
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
Motif Batik Sido Asih
– Motif Batik Semen Romo Sawat Gurdo Cantel
Motif Semen Romo Sawat Gurdo Cantel bisa kita temukan pada pakaian-pakaian pesta. Motif lainnya ialah motif Parang Curigo dan Ceplok Kepet.
Motif Batik Semen Romo Sawat Gurdo Cantel
Motif Batik Semen Romo Sawat Gurdo Cantel
– Motif Batik Semen Kuncoro
Berbeda dengan motif lainnya motif Semen Kuncoro dipakai oleh keluarga keraton saja. Ada pula motif Sapit Urang. Sedangkan motif Sekar Keben dipakai untuk kalangan abdi dalem keraton.
Motif Batik Semen Kuncoro
Motif Batik Semen Kuncoro
– Motif Batik Sekar Manggis
Khusus digunakan saat upacara tradisional Jawa. Motif lainnya ada juga motif Sekar Asem.
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
Motif Batik Sekar Manggis
– Motif Batik Parang Barong
Dipakai oleh raja atau sultan keraton.
Motif Batik Parang Barong
Motif Batik Yogyakarta dan Maknanya
Motif batik Jogja lainnya:
Motif batik Harjuno Manah
Motif batik Grompol
Motif batik Parang Bligon, Ceplok Nitik Kembang Randu
Motif batik Lerek Parang Centung
Motif batik Nogosari
Motif batik Nogo Gini
Motif batik Nitik
Motif batik Klitik
Motif batik Lung Kangkung
Motif batik Nitik Ketongkeng
Motif batik Latar Putih Cantel Sawat Gurdo
Motif batik Kesatrian
Motif batik Kembang Temu Latar Putih
Motif batik Kawung Picis
Motif batik Jawah Liris Seling Sawat Gurdo
Motif batik Jalu Mampang
Demikian berbagai motif Batik Yogyakarta dan Maknanya yang bisa kami sajikan, semoga batik terus dilestarikan dan semakin berkembang.