Kamis, 15 Agustus 2013

Perkembangan Batik Modern

Batik modern merupakan batik yang ada pada jaman sekarang ini. Baik dari jenis motifnya, maupun dari cara membuatnya. Batik ini biasanya sudah tidak terlihat sisi keunikannya yang biasanya dilihat dari motifnya. Namun batik ini cukup diminati bagi kalangan tertentu.
Mungkin selama ini masyarakat masih rancu dengan apa yang disebut dengan batik modern. Quintanova, salah seorang pengamat batik menjelaskan istilah modern dalam konteks batik dapat dilihat dari beberapa segi:
Yang pertama modern dalam arti motif dan yang kedua modern dalam teknis pembuatan. Contoh modernisasi motif diantaranya memadukan dua motif batik dalam satu kain misalnya perpaduan antara lereng dengan kawung menjadi motif lereng-kawung. Batik kontemporer bahkan mengaplikasikan motif-motif modern atau bahkan abstrak dalam kain yang diproses dengan teknis pembuatan batik.
Modern yang kedua adalah dalam hal teknis. Batik printing adalah salah satu bentuk modernisasi teknis pembuatan batik. Namun istilah batik printing yang dikenal masyarakat sebenarnya bukan termasuk batik karena tidak melalui tahapan pembuatan batik. Proses pembuatan batik secara singkat harus melalui beberapa tahap, penggambaran motif, pelapisan dengan malam, pewarnaan, dan terakhir proses lorot (penghilangan malam). Tanpa proses tersebut sebuah kain tidak bisa dikatakan batik tetapi hanya tekstil yang bermotif batik.
Inovasi lain dalam hal teknis pembuatan adalah dengan printing malam seperti yang dilakukan di Desa Wisata Batik Kliwonan dimana malam yang panas dicetak pada sebuah kain secara massal. Dengan proses ini dimungkinkan membuat batik dengan jumlah besar dan dalam waktu singkat tetapi tidak menyimpang dari aturan proses pembuatan batik.
Perlu Inovasi agar Batik Bisa Bertahan
Hal ini senada dengan yang diungkapkan Arifatul Uliana, putri Solo tahun 2009, batik modern merupakan usaha agar batik lebih memasyarakat. Demi menjangkau konsumen kaum muda, keberadaan batik modern memang sangat perlu. Dengan motif yang bervariasi maka kaum muda tidak lagi enggan menggenakan kain batik dan perlahan-lahan stereotype batik sebagai pakaian untuk yang lebih “senior” bisa terkikis.
Menurut Uli pakem filosofis batik tidak harus dikorbakan walaupun proses modernisasi terus terjadi. Nilai filosofis batik bisa dipertahankan dengan menciptakan motif baru dengan pakem-pakem yang sudah ada. Tanpa variasi dan modernisasi batik akan terkesan monoton, dan tidak bisa bertahan membudaya sampai saat ini.
Edukasi Pertahankan Nilai Filosofis Batik
Para pencipta motif batik baru perlu lebih berhati-hati dalam menuangkan kreasinya, paling tidak seorang pembuat motif batik memiliki pengetahuan dan literatur tentang batik-batik terdahulu. Agar motif batik yang diciptakan tidak menyalahi aturan dan pakem yang telah ada.Gambar Perkembangan Batik Modern
Batik yang saat ini menjadi trend mode sesunguhnya adalah suatu modal untuk memperkenalkan sejarah dan filosofis batik pada masyarakat. Edukasi budaya diperlukan agar ketika seseorang mengenakan batik dia tidak hanya mengenakannya dengan alasan trend fashion semata tetapi dengan diiringi kesadaran bahwa batik adalah warisan budaya yang patut untuk dilestarikan.
Upaya edukasi nilai filosofis batik dapat dilakukan dengan membawa batik ke sekolah baik dalam bentuk pelajaran intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Dengan upaya tersebut generasi muda khususnya pelajar menjadi mengenal batik secara lebih mendalam. Sehingga di masa depan batik tetap berjaya. Pameran batik yang digelar perlu lebih menekankan pada pengenalan nilai sejarah batik, tidak hanya pengenalan sekilas tentang kain batik saja tanpa ada tidak lanjut yang lebih mendalam.
Jangan sampai aset budaya yang tak ternilai harganya hilang bersama hilangnya kepedulian kita untuk nguri-uri budaya sendiri. Dengan usaha-usaha tersebut batik modern dan budaya batik tidak akan luntur seiring bergantinya trend busana.

Jumat, 14 Juni 2013

Menelusuri Latar Belakang Batik Truntum

Batik Truntum 
Batik Truntum merupakan salah satu karya batik yang diciptakan pada lingkungan keraton surakarta. Batik truntum diciptakan oleh permaisuri sunan paku buwana III dari Surakarta Hadiningrat yaitu kanjeng ratu kencana atau biasa disebut ratu beruk yang memiliki makna cinta yang tumbuh kembali. Jika kita perhatikan dengan seksama, batik truntum mempunyai tatanan yang tampak seperti jajaran bintang yang gemerlap dimalam hari. Sejarah batik truntum berawal dari sang ratu beruk yang tak mampu memberikan keturunan kepada pakubuwono III sehingga membuat sang raja berniat untuk menikah lagi.
Sang ratu sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena keputusan sang Raja tidak dapat diganggu-gugat, kemudian sang ratu merenung sambil menatap bintang dilangit. Untuk mengusir kesendirian  dan kesedihannya, sang ratu mulai melakukan kegiatan membatik dengan membuat motif batik bintang dilangit kelam yang selama ini selalu menemani kesendiriannya. Hal tersebut menjadi sebuah refleksi dan harapan yaitu suasana langit ditengah malam tiada bulan, namun masih terdapat banyak bintang sebagai penerang langit malam dimana selalu ada kemudahan dan harapan didalam kesulitan. Motif batiknya seperti taburan kuntum bunga melati, atau seperti bintang yang bertaburan di langit.


Sang ratu beruk ini sangat tekun dan teliti dalam membatik sehingga membuat raja pakubuwono III tertarik untuk melihat proses pembuatan batik yang dibuat oleh sang ratu. Berawal dari hal tersebut selanjutnya sang raja selalu memantau perkembangan proses pembatikan oleh sang ratu. Seiring waktu berjalan, rasa cinta sang raja kembali tumbuh dan berkembang atau tumaruntum kembali. Motif batik truntum ini didedikasikan untuk kekasihnya yaitu Raja Pakubuwono III sebagai wujud rasa cintanya yang begitu mendalam dalam ketulusan dan akan selalu berkembang atau dalam bahasa jawa diistilahkan dengantumaruntum.
Sang Raja melihat kain batik truntum ini tampak sederhana, namun jika dilihat dari dekat sangat presisi dibuatnya nampak sudut yang sama dan hal ini membuat raja pakubuwono III kembali merasakan jatuh cinta yang begitu mendalam kepada ratunya, yang selanjutnya membatalkan pernikahan selanjutnya. Motif batik yang terbentuk berupa bintang dilangit dengan warna coklat berlatar hitam dikombinasi dengan lambang garuda atau gurdho.


Motif batik truntum atau biasa disingkat dengan batik truntum yang merupakan jenis batik klasik yang terus dilestarikan sampai sekarang dengan mengenakannya pada saat acara pernikahan karena memiliki makna harapan agar cinta kasih para mempelai terus berkembang dan terjaga dalam kebahagiaan. Kain batik truntum ini biasa dikenakan oleh orangtua kedua mempelai pada saat pernikahan dengan tujuan untuk “menuntun” kedua mempelai dalam memasuki kehidupan baru karena juga mengandung makna ing ngarsa sung tuladha dimana orangtua menjadi contoh atau tuladha bagi anaknya yang dianggap sudah lulus dari sebuah ujian cinta kasih sehingga dianggap layak dan wajib untuk menuntun mempelai pengantin memasuki babak kehidupan baru agar turun atau tumurun kepada mempelai sebagai wujud sikap tut wuri handayani yaitu rangkaian keteladanan dan harapan yang diwakili oleh motif batik truntum

Sabtu, 27 April 2013

PERKEMBANGAN BATIK DAN CARA PENGOLAHANNYA


download gambar batik modern

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Meskipun batik identik dengan pakaian adat Jawa, namun kini batik sudah menjadi pakaian nasional bagi masyarakat Indonesia, bahkan sudah banyak pula dikenal di manca negara. Penggunaannyapun tidak lagi sebagai pakaian adat tetapi sudah mengikuti perkembangan mode busana baik bagi wanita maupun pria, bahkan biasa digunakan sebagai desain interior dan perlengkapan rumah tangga.
Macam batik dapat dibedakan menjadi :
1. Batik Klasik


Batik klasik mempunyai nilai dan cita rasa seni yang tinggi, dengan pengerjaan yang rumit dan dalam waktu berminggu-minggu. Batik klasik mempunyai pola-pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif, seperti kawung, parang, nitik, tuntum, ceplok, tambal, dan lain sebagainya. Bahan dasar batik berupa kain katun putih kwalitas halus, juga kain sutera putih, batik dengan bahan sutera akan menghasilkan warna yang lebih hidup.
Proses Pembuatan Batik Klasik
Hampir setiap orang pernah melihat batik. Bahkan banyak diantaranya yang pernah melihat cara pembuatan batik. Mereka mengira bahwa mereka melihatnya dalam perjalanannya di Jawa sewaktu kunjungan ke sebuah tempat kerja batik dimana para wanita menggambar desain-desain pada kain putih dengan sebuah canting. Bagian ini, dimana sesungguhnya merupakan penerapan malam adalah hanya satu dari berbagai langkah pemrosesan yang harus dilakukan untuk menjadikan suatu barang bernama batik.
1.1. Persiapan
Kain katun putih dengan lebar kira-kira 110 cm dan panjang 240 cm digarap sebelumnya agar bisa dipakai untuk pengolahan selanjutnya. Penggarapan ini terdiri dari mencuci, menganji, menjemur dan mengetuknya, suatu proses yang memakan waktu berhari-hari.
1.2. Design
Jika kain sudah siap untuk proses selanjutnya, maka motif-motif digambar dengan mengikuti pola yang sudah tersedia pada kertas atau langsung menggambar pada kain bagi pengrajin batik yang telah ahli. Setelah desain dibuat maka satu persatu diberi warna. Namun bisa juga menggambar keliling desain dulu supaya bidang-bidangnya bisa ditutupi. Cara menggambar dilakukan dengan cairan malam yang keluar dari canting dalam bentuk pancuran halus, sedangkan ukuran canting pun bervariasi.
Canting berbentuk seperti poci teh kuningan kecil sebesar kepala pipa tembakau dan bertangkai kayu. Semakin kecil canting semakin halus aliran malam yang keluar. Sebelumnya malam dicairkan dengan cara memanaskan lebih dulu, yang terpenting adalah menjaga suhu agar tepat. Kemudian pada permukaan kain sebaliknya, dilakukan desain dan pengerjaan yang sama agar tidak terdapat perbedaan di kedua sisi kain batik.
1.3. Pewarnaan
Selanjutnya kain bisa dicelupkan dalam bahan pewarna biru. Pewarnaan/pencelupan ini diulang berkali-kali hingga hasilnya tercapai. Pada produk-produk bermutu tinggi pewarnaan hingga 30 kali adalah suatu keharusan. Pewarna tradisional adalah indigo, keistimewaan warna ini adalah warnanya baru timbul sesudah kain yang diberi pewarna ini dijemur dan terkena udara. Jika kain masih basah maka bagian-bagian desain yang akan diberi warna coklat, dikerik malamnya. Setelah itu bagian-bagian yang diberi warna biru dan tetap harus berwarna biru juga ditutup dengan malam. Kemudian kain dicelup ke dalam pewarna coklat.
Bahan pewarna tradisional untuk coklat adalah soga, sejenis kulit pohon tertentu. Penggarapan warna yang baik memakan waktu 15 hari, dengan 3 macam pewarnaan perhari. Bagian-bagian yang mula-mula diwarna biru dan kemudian diwarna coklat menjadi hitam warnanya. Dengan demikian terjadilah tiga warna dari dua bahan pewarna, yaitu biru, coklat dan hitam. Dan disamping itu beberapa bagian tetap berwarna putih.
1.4. Penghilangan Malam
Setelah pengulangan pewarnaan dilakukan sehingga sesuai. Selanjutnya seluruh malam dapat dilepaskan, hal ini dilakukan dengan meng-godog hingga cair, dan cairan malam akan mengapung di permukaan. Setelah itu kain dicuci lagi.
Pengerjaan batik pada kain sutera digunakan tehknik yang berbeda, karena memerlukan malam dan bahan pewarna yang berbeda agar tidak merusak kain suteranya.
Hasil proses pembuatan batik tersebut di atas disebut batik tulis. Jenis lainnya adalah batik cap, dimana pada proses penggambaran dengan canting pada batik tulis digantikan dengan menggunakan cap (seperti gambar di bawah ini) untuk menerapkan malam pada kain.
Batik klasik dikenal dengan bermacam ukuran dan penamaan yakni batik kain panjang dengan lebar 110 cm X panjang 240 cm, batik kain sarung (sekitar 105cmX200cm), selendang (45~60cmX200~300cm), iket kepala (90cmX90cm) dan kemben (60cmX200cm).
Pada penggunaan sehari-harinya batik banyak ditemui dalam berbagai bentuk seperti berbagai macam pakaian resmi pada pria dan wanita, dan bermacam bahan untuk dekorasi interior rumah, kantor ataupun hotel, juga variasi rumah tangga seperti, taplak meja, napkins, place mats, tas, sarung bantalan, bedcover, bed sheet, dan lainnya.

Batik Truntum 
Batik Truntum merupakan salah satu karya batik yang diciptakan pada lingkungan keraton surakarta. Batik truntum diciptakan oleh permaisuri sunan paku buwana III dari Surakarta Hadiningrat yaitu kanjeng ratu kencana atau biasa disebut ratu beruk yang memiliki makna cinta yang tumbuh kembali. Jika kita perhatikan dengan seksama, batik truntum mempunyai tatanan yang tampak seperti jajaran bintang yang gemerlap dimalam hari. Sejarah batik truntum berawal dari sang ratu beruk yang tak mampu memberikan keturunan kepada pakubuwono III sehingga membuat sang raja berniat untuk menikah lagi.
Sang ratu sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena keputusan sang Raja tidak dapat diganggu-gugat, kemudian sang ratu merenung sambil menatap bintang dilangit. Untuk mengusir kesendirian  dan kesedihannya, sang ratu mulai melakukan kegiatan membatik dengan membuat motif batik bintang dilangit kelam yang selama ini selalu menemani kesendiriannya. Hal tersebut menjadi sebuah refleksi dan harapan yaitu suasana langit ditengah malam tiada bulan, namun masih terdapat banyak bintang sebagai penerang langit malam dimana selalu ada kemudahan dan harapan didalam kesulitan. Motif batiknya seperti taburan kuntum bunga melati, atau seperti bintang yang bertaburan di langit.
Gambar Batik Yogyakarta - motif nitik truntum
Sang ratu beruk ini sangat tekun dan teliti dalam membatik sehingga membuat raja pakubuwono III tertarik untuk melihat proses pembuatan batik yang dibuat oleh sang ratu. Berawal dari hal tersebut selanjutnya sang raja selalu memantau perkembangan proses pembatikan oleh sang ratu. Seiring waktu berjalan, rasa cinta sang raja kembali tumbuh dan berkembang atau tumaruntum kembali. Motif batik truntum ini didedikasikan untuk kekasihnya yaitu Raja Pakubuwono III sebagai wujud rasa cintanya yang begitu mendalam dalam ketulusan dan akan selalu berkembang atau dalam bahasa jawa diistilahkan dengantumaruntum.
Sang Raja melihat kain batik truntum ini tampak sederhana, namun jika dilihat dari dekat sangat presisi dibuatnya nampak sudut yang sama dan hal ini membuat raja pakubuwono III kembali merasakan jatuh cinta yang begitu mendalam kepada ratunya, yang selanjutnya membatalkan pernikahan selanjutnya. Motif batik yang terbentuk berupa bintang dilangit dengan warna coklat berlatar hitam dikombinasi dengan lambang garuda atau gurdho.

Motif batik truntum atau biasa disingkat dengan batik truntum yang merupakan jenis batik klasik yang terus dilestarikan sampai sekarang dengan mengenakannya pada saat acara pernikahan karena memiliki makna harapan agar cinta kasih para mempelai terus berkembang dan terjaga dalam kebahagiaan. Kain batik truntum ini biasa dikenakan oleh orangtua kedua mempelai pada saat pernikahan dengan tujuan untuk “menuntun” kedua mempelai dalam memasuki kehidupan baru karena juga mengandung makna ing ngarsa sung tuladha dimana orangtua menjadi contoh atau tuladha bagi anaknya yang dianggap sudah lulus dari sebuah ujian cinta kasih sehingga dianggap layak dan wajib untuk menuntun mempelai pengantin memasuki babak kehidupan baru agar turun atau tumurun kepada mempelai sebagai wujud sikap tut wuri handayani yaitu rangkaian keteladanan dan harapan yang diwakili oleh motif batik truntum.

2. Batik Modern
Berbeda dengan batik klasik, pada batik modern motif maupun pewarnaan tidak tergantung pada pola-pola dan pewarnaan tertentu seperti pada batik klasik, namun desainnya bisa berupa apa saja dan warna yang beraneka macam. Batik modern juga menggunakan bahan-bahan dan proses pewarnaan yang mengikuti perkembangan dari bahan-bahan pewarnanya. Terkadang pada beberapa area desain, canting tidak dipergunakan namun dengan menggunakan kuas dan untuk pewarnaan kadang diterapkan langsung dengan menggunakan kapas atau kain. Dengan kata lain, proses pembuatan batik modern hampir seperti batik klasik namun desain dan pewarnaannya terserah pada citarasa seni pembuat dan tergantung bahan-bahan pewarnanya. Bahkan dengan berkembangnya bahan dasar kain dan bahan kain berwarna, batik modern menjadi semakin bervariasi, seperti misalnya batik pada bahan katun lurik Jogja , bahan kain poplin, bahan piyama, bahan wool, dsb.

Proses Pembuatan Batik Modern
Pengerjaan pada batik modern memiliki prinsip yang sama seperti pada proses pembuatan batik klasik karena batik modern merupakan perkembangan dari variasi batik klasik.
2.1. Persiapan
Kain katun yang akan dibatik terlebih dahulu dicuci agar terbebas dari bahan-bahan yang masih dikandung oleh kain ketika proses penenunan/pembuatan kain, ini dimaksudkan agar pada proses pewarnaan nantinya tidak akan berpengaruh oleh bahan-bahan tersebut. Selanjutnya kain yang dipersiapkan dikeringkan.
2.2. Desain
Desain dilakukan langsung di atas kain dengan menggunakan pensil atau apapun yang jika nantinya dicuci pada akhir pemrosesan batik maka coretan tersebut bisa hilang, atau desain dapat pula menggunakan pola-pola yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Setelah desain siap maka dilakukan pembatikan awal dengan menggunakan canting ataupun kuas pada coretan desain tersebut. Pada proses pembatikan perlu diperhatikan bagian mana yang akan diberi warna berbeda, mengikuti desain dan hasil warna yang dikehendaki.
2.3. Pewarnaan
Proses pewarnaan berbeda-beda tergantung dari bahan pewarna dan teknik mewarna yang ingin digunakan. Pada dasarnya pada pewarnaan tahap pertama warna yang digunakan adalah warna yang lebih muda dahulu, ini disebabkan pada proses batik pewarnaan nantinya akan dilakukan secara berulang-ulang tergantung dari banyaknya warna yang diinginkan. Bahan-bahan pewarna tersebut antara lain Naphtol, Indigosol, Basis, Procion, dsb.
Pada proses ini juga masih dilakukan pembatikan pada warna-warna yang ingin dicapai pada akhir proses. Setelah proses pewarnaan selesai maka dilakukan proses penghilangan malam batik/dilorod dengan cara memasukkan kain tersebut ke dalam air panas, setelah seluruh malam batik hilang dari kain selanjutnya kain dicuci hingga bersih.

Batik Tiga Negeri
http://images.detik.com/content/2014/04/11/1059/baikbatikkkkkka.jpg
Seperti halnya segala benda lain, motif batik juga mengenal pembagian kelas. Jika ada batik yang mudah didapatkan meski tak berarti miskin makna, ada batik yang tergolong eksklusif. Iwet Ramadhan menyebutnya sebagai 'Hermes'-nya dunia batik 

Ini adalah motif batik yang disebut Tiga Negeri. Alasan batik ini disebut sebagai 'Hermes'-nya batik adalah karena biaya yang mahal dalam proses pembuatannya. Ini juga tercermin dari nama Tiga Negerinya.

"Dikatakan Tiga Negeri, karena kain ini dibuat di tiga kota, warna merahnya dari Lasem. Warna Birunya dari Pekalongan dan warna coklatnya dari Solo," kata Iwet Ramadhan, MC, penyiar radio yang juga jadi pemerhati batik, dalam acara bertajuk Cerita Kain Nusantara di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia.

"Jadi dulu ceritanya, perempuan-perempuan peranakan hanya memakai batik yang warnanya merah. Sementara ibu-ibu dari Jawa hanya memakai kain warna Sogan. Ini kemudian dipadukan dengan warna biru dari Pekalongan."

Akhirnya kain ini menjadi kain paling mahal dan yang paling digemari saat itu. "Sampai sekarang pun masih sangat mahal. Dan sekarang jarang ada yang baru, paling lawasan, harganya berkisar Rp. 3,5 sampai 5 juta."

Istilah batik Tiga Negeri ini diberikan oleh orang pertama yang membuat jenis batik ini. Dia adalah Go Tik Swan atau yang dikenal juga dengan nama KRT Hardjonagoro. Pria kelahiran tahun 1931 ini adalah seorang Tionghoa yang sangat memahami budaya Jawa. 

"Ia adalah orang yang sangat luar biasa, rumahnya masih ada di Solo," kata Iwet menjelaskan. Tak hanya mendalami soal batik Go Tik Swan juga menguasai soal keris, tembang Jawa dan bahasa Jawa. 

Dia kuliah di Sastra Jawa, Universitas Indonesia. Dia juga pernah menari di hadapan Bung Karno, Presiden pertama Indonesia. Dia lalu dipanggil Bung Karno, "Lalu Bung Karno bilang kepadanya, wong cino kok kamu bisa ngomong Jowo?" kata Iwet. 

Kemudian Bung Karno memberikannya tugas untuk membuat Batik Indonesia. "Dia menerima tantangannya, ia merenung bahkan bertapa dan ia membuat kain batik Indonesia." Batik inilah yang kemudian disebutnya sebagai batik Tiga Negeri. 
Kain ini spesial, mengandung cecek yang tidak biasa. Ia juga memadukan Sogan Solo dengan motif pesisiran, dengan menggunakan teknik celup.